Mobil Murah LCGC Justru Mengurangi Kemacetan Di Kota Besar

17 Oct 2013

c7a627283df86d96c8c275e164c60693_datsun-go-depan

Kekhawatiran berbagai pihak mengenai mobil-mobil murah LCGC yang katanya bakal memperparah kemacetan, bisa jadi benar. Laris manisnya penjualan mobil yang dipasarkan dengan patok harga Rp.95 jutaan ini bahkan menjadi fenomena tersendiri di pasar otomotif roda empat Tanah Air. Mobil murah jagoan Daihatsu, Ayla, bahkan mampu masuk 10 besar mobil terlaris hanya dalam waktu satu bulan pasca diluncurkan, yaitu dengan angka penjualan sebanyak 4.377 unit bersama dengan kembarannya Toyota Agya yang membukukan angka penjualan sebanyak 4.123 unit.

Jika dilihat dari angka penjualan duo Astra tersebut dan potensi pertumbuhannya, ditambah dengan bakal segera hadirnya para pesaing dalam waktu dekat ini, maka pantas jika banyak pihak merasa khawatir. Namun, benarkah laris manisnya mobil-mobil LCGC ini akan menambah parah kemacetan di Jakarta dan kota-kota besar lain?

Faktanya, meskipun mobil murah ditujukan kepada para pemotor yang ingin beralih ke kendaraan roda empat atau mereka yang ingin memilki mobil pertama, konsumen potensial yang membeli mobil ini justru datang dari mereka yang telah memiliki mobil. Hal tersebut disebabkan karena logika yang paling masuk akal adalah mobil LCGC lebih cocok ditujukan kepada mereka yang ingin beralih dari mobil bermesin besar dengan konsumsi bahan bakar yang relatif boros kepada mobil bermesin kecil dengan konsumsi bahan bakar yang lebih irit sebagai kendaraan harian.

Dengan kenyataan tersebut, kekhawatiran akan bertambah parahnya kemacetan yang disebabkan penambahan massal mobil-mobil LCGC sepertinya harus mulai disingkirkan. Sebab yang terjadi bukanlah penambahan tetapi peralihan.

Bahkan sebaliknya, melalui mobil LCGC yang memiliki dimensi lebih kecil, selain menjadi lebih lincah dalam bermanuver di jalan-jalan kota yang padat tentu akan lebih hemat dalam hal penggunaan ruas jalan.

Bayangkan, jika satu orang yang biasa berangkat dan pulang kerja menggunakan mobil berjenis low-MPV seperti Toyota Avanza (Panjang x Lebar = 4,120 mm x 1,630 mm) atau mobil berjenis sedan seperti Honda City (Panjang x Lebar = 4.395 mm x 1.715 mm) beralih menggunakan mobil LCGC Toyota Agya atau Daihatsu Ayla (Panjang x Lebar = 3.580 mm x 1.600 mm) bukankah justru akan mengurangi penggunaan badan jalan.

Dengan demikian, bukankah mobil-mobil LCGC justru akan menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi kemacetan dijalan. Disamping tentu saja banyak faktor lain yang mempengaruhi seperti budaya berlalu-lintas dan lain sebagainya.

Selanjutnya, bagaimana jika penggunaan mobil-mobil berdimensi besar dan boros bahan bakar yang mulai dibatasi, apalagi jika hanya terdapat satu orang didalamnya, untuk kemudian dialihkan ke mobil-mobil LCGC yang lebih kecil dan irit.

Dan kepada bapak-bapak Gubernur yang khawatir kota-nya bakal tambah macet, selain ide untuk membatasi mobil-mobil berdimensi besar dan boros bahan bakar diatas, untuk kendaraan dinas dan kendaraan operasional para bawahannya diganti sama mobil-mobil LCGC saja, gmana?

Bisa lebih irit juga budgetnya, harganya juga kan jauh lebih murah. Untuk para kepala dinas dikasih Daihatsu Ayla tipe D manual aja Pak jangan mobil yang besar-besar. Hee:p

*buat yang komentar mohon sopan ya, thanks.*


TAGS mobil murah lcgc mobil lcgc kemacetan jakarta


-

Author

Follow Me